Rabu, 03 Juli 2013

Om Bewok Tukang Semua Bisa



Masih teringat jelas dalam benak, wajahnya yang selalu berseri seakan tak pernah punya masalah, dengan perpaduan jambang yang menyatu ke jenggot, badannya yang tegap bugar dengan tinggi sekitar 145cm, jalannya yang gagah penuh percaya diri dengan sedikit mengangkang, pecinya yang khas selalu menempel diatas kepalanya, dan juga santunnya terhadap semua orang yang diketemui.

***

“Om Bewok nanti sore ngaji ya?” teriakan seorang anak kecil berusia 9 tahun sesaat setelah dia melintas dengan buru-buru didepan kerumunan anak kecil yang sedang asiknya bermain. Sambil tersenyum lebar dia menjawab “Oke siap nak!”, tak perlu ditanyakan lagi mau kemana dia hingga jalannya cepat seperti itu, sudah pasti dia mau ke Mushola Ar Rahmah untuk melaksanakan solat ashar berjamaah. Begitu lah keseharian Taryo atau yang biasa di panggil Om Bewok karena giat memelihara jenggotnya hingga lebat dan sehat, selain menjadi guru ngaji, dia juga menjadi seorang tamir di Mushola Ar-Rahmah dan juga siap membantu apa saja jika dibutuhkan oleh siapa pun.

 Seperti sebuah maskot dilingkungan perumahan Pondok Cilegon Indah khususnya blok D, Om Bewok selalu tampil aktif dalam acara apapun, hingga pada acara hajatan sekalipun ia hadir untuk membantu jalannya acara tersebut. Terakhir sekitar 2 bulan yang lalu ada sebuah acara nikahan yang diselenggarakan oleh  salah satu warga yang beralamat di blok D86, dia tampil prima sebagai tukang pengambil piring dengan batik lesu kebanggannya yang entah sudah berapa tahun ia memilikinya. Selain itu baru saja lingkungan RW04 blok D menkonblok seluruh jalannya guna memperindah lingkungan dan mempermudah pengguna jalan, sudah pasti Om Bewok pun tampil kembali pada acara gotong royong tersebut.

Bermain volly adalah satu-satunya olah raga pavorit baginya, waktunya bermain volly adalah sore hari ketika sedang libur mengajar ngaji, biasanya ketika weekend. Dilapangan RT 06 dia bermain dengan semangatnya, terlihat oleh siapapun yang menyaksikan permainannya pasti berpendapat bahwa ia sudah sangat mahir dan jago dalam bermain volly. Tak sedikit turnamen antar komplek yang dia ikuti dan mendapatkan juara, keahliannya dalam bermain volly juga ia bagikan kepada seluruh warga dengan cara latihan bersama dan tak jarang pula ia diminta untuk menjadi seorang pelatih oleh sebuah tim volly ketika ada turnamen antar daerah.

Kegigihannya dalam membantu warga khususnya blok D ini patut di acungi jempol, pernah juga ia menjadi seorang tukang bangunan ketika salah satu warga sedang merenovasi rumahnya, bahkan sampai pekerjaan yang ringan sekali pun seperti membetulkan genteng dan memotong rumput halaman ia siap sedia. Warga pun sangat terbantu oleh hadirnya Om Bewok di lingkungan tersebut, tak jarang warga memberikan bantuan berupa dana atau makan siang sekali pun.

Sangat terbantu oleh hadirnya Om Bewok pun dibenarkan oleh Abel, seorang pemuda lokal yang menjadi langganan pijat urutnya sejak dulu. “Waktu itu saya pernah salah urat dan di urut sama Om Bewok, alhamdulillah sembuh. Mulai dari situ saya sering di urut olehnya walaupun hanya pegal-pegal biasa”, tegas Abel. Entah siapa pelanggan pertama pijat urut Om Bewok, namun yang jelas Abel bukanlah satu-satunya pelanggan tetap beliau saat ini.

Dari segudang aktifitas hidupnya yang membuatnya berada pada keramaian teman, tetapi dalam istana pribadi ia masih merasa sepi. Kontrakan yang disewanya sebagai tempat rehatnya tersebut luasnya tak lebih dari 4 x 4 meter, berada di ujung selatan perumahan Pondok Cilegon Indah tepatnya di Desa Larangan, tidak ada yang istimewa dalam kontrakannya tersebut, hanya sebuah kasur, lemari tua dan 2 buah foto perempuan yang diperkirakan usianya tidak jauh berbeda dengan Om Bewok, dan satu lagi sebuah foto anak perempuan dengan baju seragam SMP-nya.

Jika ada yang menebak bahwa foto tersebut adalah foto istri dan anak tunggalnya, jawabannya benar! Foto tersebut adalah foto anak dan istrinya yang berada jauh di pedalaman solo,  sejak pertama kali ia datang ke Cilegon ia tidak bersama istri dan anaknya, orang pertamanya yang ia temui di Cilegon adalah Pak Toto, dan Pak Toto berhasil membujuknya untuk menjadi seorang tamir di Mushola Ar-Rahmah P.C.I blok D yang waktu itu baru selesai di renovasi menjadi lebih besar.

Tak menentu adalah jawaban yang terlontar ketika menanyakan kapan ia pulang ke kampung halamannya tempat istri dan anaknya tinggal. “Kadang 6 bulan sekali, dulu pernah sampai 2 tahun tidak pulang, tapi yang paling sering saya pulang setahun sekali ketika Idul Fitri”, Ujar Om Bewok. Bukan berarti ia pulang setahun sekali dan menafkahi istri dan anaknya dengan setahun sekali pula, bukti cinta dan sayangnya pada keluarga  Om Bewok rutin mengirim uang sebulan sekali guna memenuhi kebutuhan keluarganya disana.

***

Seperti tulisan yang berada di belakang truk ekspedisi, ‘Pulang Malu Ga Pulang Rindu’, mungkin Om Bewok sepakat dengan kata-kata tersebut. Rela meninggalkan keluarga kecil bahagianya di pedalaman Kota Solo semata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anaknya disana, adapun pekerjaannya yang tak menentu ia tak peduli,  semangat percaya dirinya mengalahkan keraguannya. Yang lebih super lagi, jiwa sosial yang terkandung dalam pikirannya seakan telah tumbuh besar dan berkembang, dalam kesulitan ekonomi yang dihadapinya ia masih rela membantu siapapun yang membutuhkan tenaganya dengan tulus ikhlas tanpa pamrih.

Saat ini Om Bewok masih menjadi seorang guru ngaji privat, seorang tamir di Mushola Ar-Rohmah dan bekerja di salah satu saung aneka sate yang masih berada diwilayah perumahan Pondok Cilegon Indah., adapun pekerjaan lainnya seperti tukang pijat itu hanya sampingan yang tak menentu kapan waktu sibuknya. *** (Yudhistira/Jurnalistik/smt6)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar